Guru. Sejak dulu penulis sering kali mendengar bahwa kata guru merupakan singkatan dari gugu dan tiru. Lalu penulis juga seringkali mendengar alasan seseorang menjadi guru adalah suatu panggilan hidup. Tapi, apakah makna-makna dari kata guru yang sebelumnya penulis ungkapkan, masih relevan dengan kenyataan yang ada dalam dunia pendidikan saat ini?
Belum genap tiga tahun penulis belajar untuk berperan sebagai guru. Penulis pun menyadari, masa yang singkat itu belum cukup memadai untuk bisa menuangkan sepenggal pengalaman seorang guru dalam sebuah tulisan.
Suatu ketika penulis pernah merenungkan mengenai peran yang digeluti hampir tiga tahun belakangan ini. Kemudian memori penulis pun kembali menyadarkan bahwa salah satu cita-cita saat masih duduk di Sekolah Dasar adalah menjadi seorang guru. Ketika itu penulis melihat bahwa seorang guru adalah seorang yang sangat hebat karena mengetahui banyak hal. Guru pun bisa membuat penulis tidak kehilangan figur orangtua ketika menuntut ilmu di sekolah.
Namun kini, saat penulis terjun langsung dalam dunia pendidikan kemudian mendapat peran sebagai seorang guru dan juga peran lain yang banyak bersentuhan dengan para guru, penulis pun mempertanyakan kembali hakikat di balik peran tersebut.
Guru, sebuah peran yang membuat seseorang menjadi figur teladan bagi anak-anak didiknya, bahkan bagi masyrakat sekitar tempat ia tinggal, kadang sulit untuk kita temukan di masa sekarang ini.
Guru, yang sering dikatakan sebagai panggilan hidup seseorang, sehingga ia rela untuk bergelut dalam lika-liku dunia pendidikan, kadang membuat hidupnya tidak “hidup lagi, karena pada akhirnya hanya dimaknai melalui kaca mata lahiriah, yaitu sebagai pengguguran tanggung jawab dan sebagai sarana pemenuhan kebutuhan hidupnya.
Suatu kali pernah seorang siswa bercerita kepada penulis dengan raut wajah yang tidak seceria seperti biasanya. Ia merasa tersudutkan tatkala harus mengerjakan susulan tes di sebuah ruang guru, lalu kemudian para guru membicarakan tentang masalah yang terjadi di kelas siswi ini. Saat itu, siswi tersebut juga dipersalahkan atas masalah yang terjadi di kelasnya, karena ia menjabat sebagi ketua kelas. Kita bisa bayangkan bagaimana perasaan siswi itu, padahal ia harus memeras otaknya untuk mengerjakan susulan tes.
Hal penting yang juga sering dilakukan guru adalah memberikan label terhadap anak didiknya, atau membanding-bandingkan antara siswa yang satu dengan yang lain. Tidak jadi masalah jika label yang diberikan adalah label-label positif sehingga mengangkat harga diri anak. Namun yang terjadi adalah pelabelan negatif seperti tukang ribut, tukang nyontek, tukang telat, dan lainnya. Hal ini malah akan memperkuat perliaku negatif anak yang mungkin saat itu hanya muncul sekali. Bahkan lebih parahnya, jika anak sebelumnya tidak berperilaku negatif seperti apa yang dilabelkan, akan membuat anak menampilkan sesuai label yang disandangnya.
Ada satu anak yang awalnya bersikap wajar terhadap salah satu peljaran, dan ia bisa memahami pelajaran tersebut. Namun suatu ketika guru yang bersangkutan memberikan label yang negatif dan mengucapkan kata-kata yang menyakitkan hati si anak. Setelah kejadian tersebut, anak itu jadi sulit untuk tetap bisa mngikuti pelajaran tadi dengan baik karena memendam kebencian terhadap guru yang mengajar.
Pembandingan yang terkadang dilakukan oleh guru, baik antar siswa maupun antar kelas, juga membuat aanak didik kita tumbuh dan berkembang kurang optimal. Hal ini disebabkan mereka terkungkung dalam kondisi yang tanpa disadari diciptakan oleh para pendidik mereka.
Jika kita, para guru atau pendidik, mau berkaca tentang kepantasan kita menyandang peran tersebut, maka kaca terbaik adalah kondisi anak-anak didik kita sehari-hari.
Bila kita menjumpai ada anak-anak didik kita berkata-kata kasar, berperilaku negatif, tidak jujur, pemberontak, menyakiti hati temannya, memfitnah maupun menjatuhkan temannya, tidak bisa menghargai sesamanya bahkan gurunya, maka yang harus kita lakukan pertama kali adalah bertanya kepada hati kita apakah kita melakukan hal yang serupa?. Jangan heran jika di masa sekarang kita bisa melihat anak-anak didik berunjuk rasa, karena mereka pun menyaksikan para pendidik mereka berunjuk rasa di jalan.
Saat ini sepertinya bukan saatnya lagi guru harus dianggap sebagai sosok yang sangat berkuasa dan harus ditakuti oleh anak-anak didiknya di sekolah. Seandainya kita mau memperluas samudera pengertian mengenai anak-anak didik kita, maka kita akan menemukan bahwa mereka adalah anak-anak yang butuh disayangi, dijadikan sebagai teman, dan dianggap ada oleh para pendidiknya, yaitu guru dan orangtua. Kalaupun mereka melakukan sesuatu yang kita anggap kurang tepat, ajak mereka untuk bisa mengembangkan potensi dalam memperbaikinya, bukan dengan menghakiminya. Kita sudah selayaknya lebih bersikap bijaksana dan dewasa, karena secara usia dan pengalaman, kita jelas memiliki jumlah yanng lebih banyak dari anak-anak didik kita.
Saat kita memutuskan berangkat dari rumah untuk memberikan pencerahan kepada anak-anak didik kita di sekolah, pastikanlah kondisi kita dalam kondisi yang positif dan dengan hati serta niat yang suci. Dengan begitu, pencerahan yang nanti kita berikan akan bisa diterima dengan baik oleh anak-anak didik kita tercinta.
Pendidikan tidak hanya tentang memindahkan ilmu dari kepala kita ke dalam kepala mereka. Tapi juga mengenai bagaimana kita berinteraksi, memberikan teladan yang baik, serta membentuk pribadi anak-anak didik kita menjadi pribadi yang mulia. Sang Maha Mulia pada akhirnya akan meminta pertangungjawaban kita terhadap apa yang telah kita berikan terhadap anak-anak didik kita, serta perubahan apa yang telah kita lakukan terhadap mereka.
Penyebutan guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, benar adanya. Meskipun ada balas jasa yang ia terima, tidak akan cukup membayar jerih payahnya dalam mendidik anak-anak didiknya menjadi pribadi yang mulia. Namun Sang Maha Pengasih tidak pernah salah menghitung tiap amal hamba-Nya.
Tapi bukan berarti istilah pahlawan tanpa tanda jasa mengijinkan mereka yang berwenang bisa berlaku semaunya terhadap para pahlawan ini. Karena mereka pun seorang manusia, yang perlu dimanusiakan dan dianggap ada. Jadi meskipun pada awalnya para pahlawan tersebut berangkat dengan niat yang tulus, namun dalam perjalanannya ada tuntutan-tuntutan hidup yang terkadang sedikit mengotori niat tulus itu. Dengan demikian perlu ada saling empati, pengertian, respek, serta kerja sama yang baik dari semua pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan, jika kita ingin membentuk manusia yang mulia. Penulis jadi teringat perkataan salah seorang teman, Guru bukanlah segalanya, namun segalanya berawal dari guru.
Terima kasih penulis haturkan kepada para guru yang telah terlibat dalam kehidupan penulis hingga saat ini. Syukur kupanjatkan pula pada Engkau Yang Maha Menguasai Ilmu, atas kesempatan yang diberikan sehingga penulis bisa bersentuhan dengan dunia pendidikan.