SMAIT Nurul Fikri, Kamis (19/5), mengadakan seminar tentang NII (Negara Islam Indonesia), membahas lebih dalam tentang gerakan NII. Acara dilaksanakan di lantai 3 gedung C, SIT Nurul Fikri.Fakta di lapangan banyak pihak yang memanfaatkan issu gerakan ini untuk kepentingan politik, korban pun banyak berjatuhan dikalangan generasi muda. NII versi sekarang tidak ingin membentuk negara Islam, melainkan merusak citra Islam itu sendiri.
Menurut Kepala Sekolah SMAIT Nurul Fikri, Fahmi Zulkarnaen, S.Pd., bahwa persoalan NII tidak bisa dianggap enteng, sudah banyak korban yang jatuh. Atas dasar inilah kami merancang kegiatan ini. “tujuan kami agar anak-anak kami paham apa itu NII, apa tujuannya, gerakannya, cara kerjanya, dan yang terpenting mereka tahu cara menghindar dan antisipasinya,” terangnya.
Ketua Tim Rehabilitasi NII Crisis Center (NCC) Sukanto dalam presentasinya mengatakan, lebih dari 1.000 orang menjadi korban pencucian otak aliran menyimpang ini. Modus yang dialami para korban NII ini mirip dengan yang terjadi pada Laila Febriani (Lian) yang hilang dari rumah dan menjadi hilang ingatan akibat korban pencucian otak dari NII belum lama ini.
Gerakan NII sangat rapi. Gerakan NII tidak seperti gerakan teroris yang melakukan aksi-aksinya melalui serangkaian bom dan aksi kekerasan lainnya. Namun, dengan melalui gerakan cuci otak, gerakan NII ini masuk ke kampus-kampus, sekolah-sekolah SMA, dan SMP sederajat.
Para jamaah NII menghalalkan merampok, mencuri, menipu, memeras, merampas atau melacur asalkan demi kepentingan Negara atau Madinah. Hal tersebut disandarkan pada filosofi sesat atas kepemilikan wilayah teritori Indonesia oleh Negara Islam Indonesia, atas dasar Proklamasi NII dan ke-Khalifahan Kartosoewirjo pada tahun 1949, serta dalam rangka aplikasi atau praktek dari ayat "Sesungguhnya bumi ini diwariskan kepada hamba-hamba-Ku yang Shalih".
Inilah dasar falsafi adanya prinsip "tubarriru al washilah” menghalalkan segala cara. Doktrin ini diyakinkan melalui penyampaian secara berulang-ulang dalam materi tazkiyah untuk umat dan dalam acara irsyad untuk para mas'ul.
Sukanto sendiri orang yang sudah malang melintang di NII. Dia direkrut NII setelah lulus SMA pada tahun 1996 dan pernah menjabat sebagai camat NII wilayah Tebet, Jakarta Selatan. Setelah keluar dari NII, Sukanto dan rekannya sesama mantan NII, Ken Setiawan membentuk NII Crisis Center.
”Gerakan pencucian otak yang dilakukan NII sangat rapi dan terorganisir. Dalam gerakan ini ada struktur layaknya negara. Pemimpin tertinggi atau presiden dalam NII disebut sebagai khalifah atau imam. Saat ini, khalifah NII KW9 yang meliputi Jakarta, Tangerang, Banten dan Bekasi, dipegang oleh Abdussalam Panji Gumilang, pemimpin Pondok Pesantren Al Zaitun, Indramayu. Namun Ponpes Al Zaitun menyatakan sejauh ini tidak ada pernyataan Panji Gumilang yang memimpin Ponpes termegah di Asia Tenggara itu sebagai pemimpin NII”, jelasnya.
Selain presiden, NII juga memiliki sejumlah menteri. Saat ini ada 11 kementerian di NII. Kemudian ada gubernur, bupati, camat, lurah hingga ketua RW dan Ketua RT. “Ya kalau dikonfirmasi ke Al Zaitun, mereka pasti akan bilang kita ini lembaga pendidikan. Tapi Panji Gumilang itu memang imamnya NII,” kata Sukanto, mantan camat NII wilayah Tebet itu.
Sukanto juga memberikan trik atau cara menghindar dari ajakan orang-orang NII. Hingga pukul 10.00, Sukanto membahas tuntas tentang NII. Para siswa terlihat antusias, terbukti banyak pertanyaan yang diajukan oleh para siswa yang ingin lebih tahu lagi tentang gerakan NII ini.