Setidaknya saya harus mengatakan bahwa keberangkatan menuju UMROH adalah mimpi yang terwujud. Betapa tidak, memimpikan untuk beribadah di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi adalah hak semua orang muslim.
Awalnya, ada dua ketakutan saya untuk menuju panggilan Allah SWT. Labbaik Allahumma Labbaik. Pertama saya banyak melakukan maksiat. Ngeri membayangkan balasan langsung di Mekkah atau di Madinah. Kata orang yang sudah berangkat ke sana, bila melakukan maksiat, Allah SWT langsung bayar secara tunai berupa ganjaran .
Kedua, saya termasuk orang yang gampang buang angin. Bagaimana jika terjadi buang angin di tengah kerumunan ratusan bahkan ribuan orang yang Thawaf dan Sa’i? Wah, sangat sulit bolak-balik untuk mengambil air wudhu. Apalagi dengan berpakaian ihram yang dua helai pakaian itu dan tanpa ada pakaian dalam. Terbayang sudah kemudahan untuk buang angin dan kesulitan untuk mengambil air wudhu.
Cobaan mulai saya rasakan yakni tidak jelas kapan keberangkatan. Bahkan pimpinan Alia Wisata yang akan membawa kami umroh mengatakan” Siap-siap Bapak dan Ibu tidak jadi berangkat karena visanya tidak keluar.” Memang ada apa dengan visa, tanya saya dalam hati. “ Visa itu 100% kebijakan Arab Saudi. Negara itulah yang mengeluarkan,” kata Bapak Joko Asmoro, pimpinan Alia Wisata Tour and Travel. Benar saja, jadwal keberangkatan yang semestinya pada Rabu 30 Juni 2010, the last minutedibatalkan karena visa belum ada.
Saya berpikir, apakah ini pertanda bahwa saya tidak jadi berangkat umroh. Sebab kata orang, yang sudah mendaftar untuk umroh atau haji, belum tentu langsung berangkat. Bahkan ada yang batal sama sekali. Namun, tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah SWT. Ternyata saya pun berangkat pada Rabu 7 Juli 2010 menuju Madinah dan Mekkah.Labbaik Allahumma Labbaik.
Di Madinah Allah SWT hadirkan cuaca yang sangat panas. Namun, itu semua tidak mampu menurunkan semangat bagi siapa saja yang sudah berbulat tekad untuk beribadah di Kota Penuh cahaya tersebut. Sholat lima waktu di Masjid Nabawi. Berbagai sholat sunnah yang sudah saya rancang di tanah air, Alhamdulilah dapat dipraktikkan. Tentu saja saya berbekal bahan bacaan Fiqh Sunnah karya alharhum Sayyid Sabiq. Kelelahan membaca Al Quran, bisa istirahat di dalam masjid yang sejuk karena banyak terdapat AC. Kehausan tidak perlu membawa air, sudah tersedia air zam-zam. Tinggal pencet dan hilanglah rasa haus. Di Raudhoh, taman surga, sebagai tempat doa yang mustajab, saya Alhamdulillah dapat sholat sunnah.
Banyak berdoa dan meneteskan air mata. Air mata kebahagiaan dapat beribadah di Masjid Nabawi. Dapat berziarah ke makam orang-orang hebat yang dijamin masuk surga: Rasululloh, Abu Bakar Ash Sidiq, dan Umar bin Khottob. Bahagia dapat menziarah tempat-tempat bersejarah di Madinah: Baqi, Bukit Uhud, Bukit Tsur, Masjid Quba sebagai masjid pertama yang dibangun, dan lain-lain. Termasuk kebahagiaan bertemu dengan alumnus SMPIT NF : Idrus. Dia adalah putra dari Menteri Sosial saat ini: Dr. Salim Segaf Al Jufri. Semoga Idrus dapat keberkahan dan mampu menyelesaikan studinya dengan baik di Madinah.
Di Mekkah, Allah SWT menghadirkan dua kali hujan rintik-rintik di sana. Sebuah pemandangan yang langka. Di Tanah Air, yang namanya hujan, bukanlah peristiwa langka yang ditunggu banyak orang. Hujan bisa setiap hari. Kadang hujan bahkan dibenci orang Indonesia karena bisa mendatangkan banjir dan kemacetan. Tentu yang terakhir, tidak boleh ada dibenak kita.
Mulailah perjalanan khusus untuk merealisasikan umroh: mengambil niat di Miqqot Bir AliMadinah, Thawwaf di Mekkah, Sa’i, Tahalul (mencukur rambut) di lakukan secara tertib.Alhamdulillah ketakutan berupa membuang angin tidak terjadi. Saya sibuk dengan mengharapkan keridhoan Allah SWT. Sibuk dengan membaca doa dalam buku panduan. Jadi tidak teringat dengan kekhawatiran tersebut. Walhasil, umroh pun dapat dilakukan dengan khusyuk. Termasuk saya menikmati kebotakan saya. Saya minta dicukur habis hanya dengan 5 Real. Botak, sesuatu yang tidak pernah saya lakukan kecuali saya masih bayi. Selama di Mekkah, dua kali umroh badal saya lakukan. Pertama untuk almarhumah Ibu saya. Kedua, untuk almarhumah Ibu mertua.
Satu peristiwa penting yang menunjukkan berpadunya kekuatan niat, azzam, dan ikhtiar adalah Allah SWT memudahkan saya dapat mencium Hajar Aswad. Awalnya saya ragu bisa atau tidak. Penting ngga sih mencium Hajar Aswad. Namun, saya pikir, sudah di depan mata Hajar Aswad itu.
Setelah hari ketiga di Mekkah saya mencoba untuk memasang niat. Ber-azzam bahwa SAYA BISA. Saya mulai Thawwaf di Ka’bah. Saya ikuti pesan rekan saya, M Bajuri Salam yang telah lebih dari 3 kali mencium Hajar Aswad. Saya mulai merapat mendekat Ka’bah dari arah Rukun Yamani. Berangsur-angsur kaki saya langkahkan perlahan. Desakan orang, rebutan orang, yang ingin mencium Hajar Aswad sangat menyesakkan dada. Tidak kuat saya menahan dorongan dari belakang. Sempat saya terjauh. Jarak saya dengan “Batu Hitam” itu tinggal sekitar 1 meter. Saya hanya mengucap “ Allahummah yasirli, walaa tu’asyir” Ya Allah permudahlah, jangan Engkau persulit.
Akhirnya saya dapat menggapai pinggiran Hajar Aswad yang terbuat dari perak itu. Saya sempat disalib dari belakang. Tubuhnya besar dan kekar. Saling dorong terjadi. Saya lihat ada kesempatan untuk memasukkan kepala ke dalam Hajar Aswad. Di tengah terik dan gegap gempita orang mendesak dan mendorong agar dapat mencium Hajar Aswad itu, akhirnya saya menggerakkan kepala dan masuk kedalam untuk mencium batu yang tinggal delapan potonga tersebut. Alhamdulillah. Hening saat mencium Hajar Aswad. Tidak terdengar suara-suara orang yang berdesakan dengan berbagai bahasa mereka.
Satu lagi peristiwa penting: kebaikan dan husnuzhon dengan Allah berbuah positif. Rekan saya bernama Hj. Haim telah beberapa kali haji dan umroh. Beliau dan istrinya ketika di Jabal Rahmah, tempat bertemunya Nabi Adam dan Siti Hawa setelah dikeluarkan oleh Allah SWT dari surga, melakukan pemotretan. Mereka minta tolong ke pemilik onta hias yang banyak berkeliaran di sekitar Jabal Rahmah. Orang tersebut bersedia membantu.
Setelah melakukan pemotretan Haji Haim lupa mengambil kameranya. Setelah itu, mereka berbaur dengan suasana keramaian di Jabal Rahmah tersebut. Dalam perjalanan menuju lokasi lain di dalam bus, H Haim baru teringat bahwa kamera digitalnya belum diambil dari orang tersebut. Bus kemudian berbalik. Upaya mencari orang tersebut selama setangah jam tidak membuahkan hasil. Rekan-rekannya, termasuk saya, men-support mantan anggota dewan DPRD DKI Jakarta ini untuk mengecek lagi, bersabar, dan husnuzhon pada Allah SWT. Akhirnya, setelah H. Haim dan istrinya menunaikan umroh badal, mereka beristirahat di hotel tempat kami menginap. Kedatangan mereka termasuk yang terlambat dibandingkan kami. Maklum usianya 75 tahun.
Setelah mereka sampai di kamar hotelnya, rebahanlah H Haim. Sesaat kemudian dia berusaha membuka tas untuk mengambil sesuatu. Di sinilah yang terjadi: Kamera digital ada di dalam tas yang tidak dibawa mereka saat umroh badal. Kami pun bertakbir : Allahu Akbar! Ternyata benar-benar menakjubkan. Allah SWT balas kebaikan dengan kebaikan pula. Allah SWT pun sesungguhnya dapat membalas kejahatan dengan kejahatan pula.
Sampai saya kembali ke tanah air pun, ketakutan saya tidak pernah terjadi di Mekkah dan Madinah. Semoga ini selalu memberikan inspirasi buat saya bahwa ALLAH SWT selalu bisa menghadirkan sesuatu yang tidak bisa di mata manusia. KUN maka FAYAKUN. Rindu untuk kembali menuju Baitulloh. Semoga.
Baca Juga