Kolom | Reportase | Karya Siswa | Resensi Buku | Artikel | Kisah Inspiratif | Rubrik Pembaca | Taujih

HomeRagam MediaKolomKolom GuruBeragam Cara Sekolah dalam Menyikapi Bulan Ramadhan

Beragam Cara Sekolah dalam Menyikapi Bulan Ramadhan

ramadhanBulan Ramadhan adalah saat orang islam menjalankan salah satu kewajiban utama yaitu berpuasa. Sebagai sebuah Negara yang masyarakatnya mayoritas beragama islam, tentu suasana ramadahan sangat mudah kita temui di berbagai tempat.Di perkantoran, instansi pemerintah, perusahaan swasta, pasar, acara televisi, berita media massa dan lain sebagainya akan kita rasakan berbeda suasana dibanding waktu selain ramadhan.

Tidak terkecuali tempat pendidikan, di sekolah. Bahkan di Sekolah Dasar (SD) atau yang lebih rendah tingkatannya suasana ramadhan juga akan kita temui. Seperti tidak ada kantin yang buka untuk berjualan, meskipun anak-anak usia sekolah dasar belum diwajibkan untuk menjalankan puasa. Namun dengan kondisi yang ada di SD tersebut akan menanamkan dan melatih pada seorang anak kecil bahwa mereka juga perlu “belajar puasa”.

Jika kita mencermati pada sekolah-sekolah formal di Indonesia dalam menyikapi bulan ramadhan, maka kita akan mendapatkan berbagai variasi antara satu sekolah dengan lainnya. Secara umum kita dapat mengelompokkan keragaman sekolah dalam menyikapi bulan ramadhan dibagi dalam empat kategori, yaitu :  

Pertama, Sekolah menyikapi bulan ramadhan hanya dengan mengurangi jam belajar siswa. Kategori ini kebanyakan dilakukan oleh sekolah-sekolah negeri atau sekolah-sekolah swasta yang bernuansa umum. Prinsip yang mendasari sikap ini adalah bahwa puasa ramadhan akan mempengaruhi fisik siswa dalam aktivitas belajar di sekolah. Agenda belajar dari awal masuk sampai pulang tidak berbeda dari hari biasanya kecuali dengan mengurangi jam belajar. Dalam kategori ini siswa tidak akan mendapatkan banyak dari sebuah “pendidikan ramadhan”. Padahal prinsip utama dari sekolah adalah bahwa segala sesuatu harus melihat dimensi pendidikan. Memang ada kegiatan berkenaan dengan ramadhan, namun hanya sedikit dari sisi waktu dan nilai pendidikannya, seperti buka puasa bersama. Kegiatan-kegiatan “pendidikan ramadhan” seperti berinteraksi dengan Al Qur’an, ceramah ramadhan, memotivasi siswa agar berpuasa yang berkualitas tidak menjadi perhatian utama sekolah yang termasuk kategori ini.  

Kedua, Sekolah menyikapi bulan ramadhan dengan meliburkan siswanya selama sebulan penuh. Kebijakan meliburkan siswa selama bulan ramadhan akan kita temukan pada sekolah-sekolah dari organisasi Muhammadiyah. Kategori ini pernah secara nasional diberlakukan pada semua sekolah di Indonesia, yaitu pada era Presiden Aburrahman Wahid (Gusdur). Salah satu pertimbangan kebijakan meliburkan siswa selama ramadhan adalah agar siswa dapat beribadah dengan khusyu’. Untuk itu para siswa tidak perlu masuk sekolah yang akan berpengaruh pada keberhasilan ibadah dibulan ramadhan. Kebijakan ini juga menjawab keinginan masyarakat tentang keinginan “pendidikan ramadhan” bagi anak-anak mereka yang memang agak susah didapatkan di sekolah. Dengan siswa libur diharapkan juga mereka lebih aktif mengisi ibadah ramadhan di rumah maupun di masjid seperti membaca Al Qur’an, mendengarkan ceramah dan lain sebagainya.
Alih-alih ingin menjadikan “Pendidikan Ramadhan” bagi siswa, pada realitanya, terutama pada sekolah-sekolah negeri atau swasta yang belum pernah melakukan kebijakan ini tidak pernah berhasil mencapai tujuan yang diharapkan. Setidaknya ada dua ketidakberhasilan yang dialami dengan kondisi tersebut yaitu pencapaian pembelajaran akademik di sekolah dan pencapaian “khusyu” dalam menjalankan ibadah di bulan ramadhan. Para siswa yang libur justru menurun tingkat produktifitas, menurun semangat belajar, lebih sering tidur-tiduran, atau menghabiskan waktu dengan maen games. Mungkin kebijakan ini tepat diterapkan di sekolah-sekolah Muhammadiyah karena lebih siap dan terbiasa dengan metode ini. 

Ketiga, Sekolah menyikapi bulan ramadhan dengan memasukan kegiatan ibadah ramadhan ke dalam agenda belajar siswa. Prinsip yang diterapkan oleh sekolah yang termasuk kategori ini dalam menyikapi bulan ramadhan yaitu memadukan pentingnya belajar siswa dalam bidang akademik dan menjadikan ramadhan sebagai bulan pendidikan bagi siswa. Sekolah dalam kategori ini sepertinya hendak menggabungkan kelompok kategori pertama dan kedua.

Sekolah yang termasuk dalam kategori ini misalnya Sekolah Islam Terpadu (SIT). Seperti yang terjadi di SMA IT Nurul Fikri, Depok, Sekolah menerapkan kebijakan mengharuskan siswa tetap masuk pada batas waktu yang ditentukan. Namun, secara khusus sekolah juga membuat agenda kegiatan ramadhan masuk ke dalam waktu belajar siswa. Dimulai dengan membaca Al Qur’an satu juz tiap hari secara bersama, kemudian ada sholat dhuha, dan diakhir waktu belajar ada kegiatan yang bervariasi seperti kultum, mentoring, lomba pidato, lomba membaca Al Qur’an bahkan menonton film yang melibatkan seluruh siswa. Kegiatan-kegiatan ini diharapkan dapat menjadi “pendidikan ramadhan” bagi siswa. Kebijakan ini juga diharapkan menjawab keinginan masyarakat agar bulan ramadhan bisa menjadi sarana pendidikan agama bagi putra-putri mereka. Sementara secara akademik diharapkan siswa tidak tertinggal dalam penguasaan materi.

Keempat, kategori ini cukup unik yaitu menyikapi bulan ramadhan dengan menugaskan siswa untuk terjun ke masyarakat. Kegiatan siswa di masyarakat seperti layaknya Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang biasa dilakukan oleh Mahasiswa tingkat akhir. Salah satu yang termasuk kategori ini adalah Madrasah Aliyah Negeri (MAN), sekolah di bawah naungan Departemen Agama. Seperti yang dilakukan oleh MAN Pringsewu, Lampung, yaitu menugaskan siswanya untuk “bermasyarakat”.

Dalam kegiatan ini, biasanya yang tugaskan untuk terjun ke masyarakat adalah siswa pada kelas paling tinggi. Siswa dibagi dalam berbagai kelompok dan masing-masing kelompok ditugaskan ke desa yang berbeda. Agenda yang dilakukan dalam kegiatan ini misalnya mengajarkan membaca Al Qur’an bagi anak-anak atau remaja di masjid-masjid. Selain itu juga melakukan bersih-bersih lingkungan, buka puasa bersama, ceramah dan lain-lain. Kegiatan terjun ke masyarakat dilakukan selama 2-3 minggu.

Beragam cara sekolah dalam menyikapi bulan ramadhan merupakan fitrah dalam dunia pendidikan di Indonesia. Masing-masing kategori tentu punya analisis yang mendalam untuk memberikan yang terbaik bagi siswa selama bulan ramadhan ini. Namun, yang lebih penting setelah melaksanakan agenda tersebut adalah melakukan evaluasi untuk mengukur tingkat keberhasilan kebijakan yang dibuat. Prinsipnya yaitu bahwa Ramadhan, bulan yang penuh berkah ini, bagi sekolah hendaknya selalu melihat nilai pendidikan bagi siswa. Dengan adanya evaluasi maka akan meningkatkan kualitas sekolah dalam agenda menyikapi bulan ramadhan.  

Biodata Penulis
Nama                          : Suratno S.Si, M.Si
Tempat/Tgl lahir           : Brebes, 20 Maret 1981
Alamat                         : Jl. Margonda Raya, RT/RW  01/17 Kelurahan Kemiri Muka, Beji – Depok
Pekerjaan                     : Guru di SMA IT Nurul Fikri
Pendidikan                   : S1 Matematika UNPAD, Bandung (2001-2007)
                                    S2 Kajian Ketahanan Nasional UI (Beasiswa dari Kemenpora) (2008-2010)
Organisasi                    : Anggota Ikatan Guru Indonesia (IGI)
Hobby                         : Menulis, berpetualang
No HP                         : 08170903790


 

Kolom Lainnya