Mengemis Kasih Ilahi di Tanah Suci

“Her.., gue denger lo mao pergi Umrah?” Tanya Baba haji Matamin, salah satu sesepuh di kampung saya, setelah melaksanakan sholat Isya berjamaah. “Iye Baba Haji, insya Allah berangkat tanggal 30 nanti ( 30 Juni),” jawab saya. 
“Syukur deh, gue mah pengen banget balik lagi kalo punya duit. Luh mah enak kalo umroh nggak rame kaya Haji”, lanjut beliau. Dalam hati saya berkata, Iye.., Baba Haji yang udah pergi aja mau balik lagi, apalagi saya yang belum sama sekali.

Memang setiap muslim pasti sangat berharap untuk dapat berkunjung ke Baitullah dan berziarah ke makam Rasulullah. Bahkan di kampung saya yang mayoritas warga betawi, hampir semua sesepuh di sini sudah pergi haji. Mereka rela jual tanahnya, yang penting dapat berkunjung ke Baitullah. AlhamduliLlah, atas rezeki dari Allah SWT saya bersama lima rekan dari SIT Nurul Fikri melalui hadiah dari Yayasan Nurul Fikri akan diberangkatkan ke tanah suci Makkah dan Madinah, tanah yang penuh barokah, tanahnya para Nabi yang Mulia.

Menangis saya sewaktu mendengar hal ini langsung dari Ust. Fahmi Alaydrus, ketika saya di kumpulkan bersama rekan-rekan yang lain di ruang Yayasan. Menangis karena begitu cepat diri ini di undang Allah SWT untuk berkunjung ke rumah-Nya. Menangis karena Umrah kali ini dekat dengan bulan Ramadhan yang mulia. Menangis karena malu kepada Allah SWT karena masih banyak dosa yang hamba lakukan tapi Kau sudi mengundang hamba untuk berkunjung ke rumah-Mu.

Tapi rupanya keberangkatan kami yang direncanakan tanggal 30 Juni tertunda, tanpa kepastian tanggal keberangkatan selanjutnya. Tepat pada tanggal 29 Juni pemberitahuan ini kami terima, saat saya bersama Pak Bajuri dan Pak Jaya mengantar travel bag teman-teman ke kantor pusat Alia Wisata di kali malang. Kaget, sedih dan saya merenung mudah-mudahan ada hikmah di balik ini semua. Mungkin karena Allah tidak ingin saya berkunjung ke rumahnya dengan ‘bekal yang seadanya’ maksudnya bekal ilmu tentang Ibadah Umrah.

Sambil menunggu kepastian, setiap ada waktu luang, saya membuka-buka kembali buku Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq tentang Ibadah Umrah. Selain itu hikmahnya adalah saya masih bisa bantu-bantu untuk persiapan tercapainya SMPIT NF untuk memperoleh SSN dan saya masih  bisa mengikuti raker Yayasan dan raker SMPIT Nurul Fikri dan berkesempatan lebih banyak untuk meminta maaf lahir batin kepada rekan-rekan dan kerabat sebelum berangkat ke tanah suci.

AlhamduliLlah setelah 5 hari menanti, ada sms dari Pak Suhartono selaku Amirul Umrah Rombongan Umrah, insya Allah kami positif berangkat tanggal 7 Juli. Berangkat dengan pesawat Garuda, jadi kami langsung ke Jeddah, tanpa perlu transit. Rencana sebelumnya kalau jadi berangkat tanggal 30 Juni, kami menggunakan pesawat Singapore AirLine dan harus transit di Singapore  dan perjalanan akan memakan waktu lebih lama 3 jam. Makan serta snack dari Garuda tentu lebih terjamin kehalalannya. ”Ya Rabb terimakasih, rupanya kami tak terlalu lama menunggu”, segala persiapan untuk berangkatpun dilakukan.

Perjalanan dari bandara Soeta sampai Jeddah memerlukan waktu sekitar 9,5 jam, selama dalam pesawat saya masih merasa seperti mimpi. “Ya Rabb, benarkah saya akan ke Tanah suci Mekkah dan Madinah, Ya Allah jadikanlah Ibadah kami mabrur”. Setelah perjalanan yang cukup panjang dan pesawat akan mendarat saya memandangi kota Jeddah dari ketinggian angkasa. Kami tiba pukul 10 malam di Saudi, kalau di Indonesia berarti pukul 2 pagi. Begitu Indah dan terasa tentram hati ini melihat kilauan lampu malam yang tertata rapi dan pemandangan kota Jeddah di malam hari.  Tak lupa saya abadikan melalui kamera video kebetulan saya duduk pada seat persis di samping jendela pesawat.

Setelah mendarat, segera kami dibawa petugas Bandara menuju Ruangan chek in dengan menggunakan mobil bandara, dicek seluruh kelengkapan Admin kami, paspor, visa dan sebagainya. Yang menarik adalah pelayanan petugas check in yang sangat ramah. ”Indonesia?“, katanya. “Na’am”, jawab saya. “I love very much Indonesia”, sambil menyunggingkan senyum yang lebar dan memberikan cap. Setelah semuanya beres, saya dan rekan-rekan sudah ditunggu oleh petugas dari Alia wisata, untuk menuju bus yang akan memberangkatkan kami dari Jeddah ke Madinah, kurang lebih 6 jam perjalanan.

Di dalam bis, sang pemandu, Ust. Habib mengajak kami untuk bershalawat dan menyenandungkan lagu Thola’al Badru. Begitu menyentuh saya sambil membayangkan Rasulullah sedang saya nantikan kedatangannya, tak terasa air mata ini menetes satu demi satu membasahi wajah teringat ketika penduduk Madinah menanti kedatangan RasuluLlah SAW lewat Sirah yang pernah saya baca. Saya pandangi lekat-lekat dan sepuasnya dari jendela bus bentangan sebagian besarr padang pasir di kanan-kiri jalan. Setelah cukup lama bus ini melaju dan suasana agak sunyi, sambil becanda ada seorang teman yang berkata, “Wah NF bisa buka cabang di sini nih, masih banyak tanah kosong”. Haha..geerrrr....memecah kesunyian perjalanan malam saat itu. Akhirnya waktu sholat Shubuh tiba, bus yang kami tumpangi menepi pada tanah lapang dekat Masjid untuk melaksanakan sholat Shubuh. Kata pemandu, “insya Allah satu jam lagi kita akan sampai Madinah dari Masjid ini”.

Setelah Sholat Shubuh, perjalanan ke Madinahpun segera dilanjutkan. AlhamduliLlah tak begitu lama akhirnya kami sampai di hotel. Sebelum masuk hotel, saya pandangi Masjid Nabawi yang begitu indah. Ingin segera aku memasukinya dan segera beribadah di dalamnya, tapi kami harus sabar menunggu, karena kami harus sarapan pagi dan menuju kamar masing-masing. Saya sekamar dengan Pak Bajuri, Pak Suhartono dan Pak Putut. Setelah semuauanya beres sarapan pagi dan bersih-bersih diri kami menuju masjid Nabawi dengan dibimbing Ust. Habib dari Alia.

Ya Rabb berdegup jantung ini saat akan memasuki Masjid, yang pahala shalatku di masjid ini lebih afdhal daripada seribu sholat di masjid lainnya. Dari Ibnu Az-Zubairradhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Shalat di masjidku ini adalah lebih afdhal daripada seribu shalat di masjid lainnya, kecuali masjidil haram. Dan shalat di masjidil haram adalah lebih afdhal daripada shalat di masjidku ini dengan seratus kali. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam Musnad-nya dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban.

Kulaksanakan sholat tahiyatul masjid, sholat dhuha, setelah itu Ust. Habib membimbing kami untuk menuju Raudhah. ”Yuk kita menuju Raudhah”, kata Ust. Habib, “mudah-mudahan tidak terlalu ramai”, lanjutnya. Raudhah adalah salah satu taman dari taman-taman di syurga yang terletak di antara makam Rasulullah SAW dan mimbar tempat beliau biasa berkhutbah di dalam masjid nabawi yang mana tempat tersebut sangat mustajab dan Alah SWT akan meng-ijabah doa-doa kita.

Rupanya jamaah sudah padat, dan terlihat antrian dari jamaah lain yang akan memasuki Raudhah. “BismiLlah, mudah-mudahan saya bisa masuk Raudhah”, ucapku dalam hati. Teringat titipan doa dari kawan-kawan seperti Pak Wawan, Pak Andri, Pak Roni, Pak Hendri, Pak Suparno, Bu Nurul Uyun, kordinator orangtua murid, Bu Esti dan Bu Euis dll, juga dari kerabat tentunya dari istri tercinta yang kuselipkan di kantong baju. Saya ingin memanjatkan di dalam Raudhah, AlhamduliLlah setelah cukup lama menunggu saya dapat memasuki Raudhah. Raudhah memiliki karpet yang berwarna khusus untuk membedakan dengan tempat yang lain di Masjid Nabawi, yaitu karpet Hijau. 

Sepuasnya saya berdoa kepada Allah SWT semoga apa yang saya hajatkan di kabulkan Allah SWT. Senang, bahagia, terharu, karena saya dapat bermunajat di Raudhah persis di balik tembok yang memisahkan di sampingnya Makam RasuluLlah SAW. Setelah berdoa, saya berziarah ke makam RasuluLlah dan dua sahabatnya yang tercinta Abu Bakar Ash Shidiq dan Umar bin Khattab. Sambil bershalawat dan berjalan pelan-pelan, sabar menuju makam RasuluLlah, makam Rasul hanya dapat dilihat melalui lubang teralis besi. Menangis kembali mata ini tak menyangka dapat berziarah ke makam RasuluLlah yang tercinta. “Ya RasuluLlah berilah kami syafaat nanti di Yaumil Qiyamah”. Selama masih di Madinah, saya membiasakan setelah shalat Fardhu berziarah ke makam RasuluLuLlah, alhamduliLllah saya berhasil merekam momen-momen yang berbahagia ini dengan mengabadikannya lewat kamera.

AlhamduliLlah di Masjid Nabawi ini saya sempat juga berbicara dengan saudara-saudara muslim dari negara lain. Walaupun dengan bahasa Inggris yang seadanya dan sempat meminta alamat email mereka agar kami dapat menjalin persaudaraan kembali lewat face book. Dan tak disangka atas izin Allah SWT, kami bertemu dengan putra Ust. Dr. Salim Segaf Al Jufri, Ananda Idrus, alumni NF yang sedang menuntut ilmu di tanah suci. Jadilah ia Guide dadakan kami, untuk meminta penjelasannya mengenai lingkungan Masjid Nabawi, salah satunya saya tahu dari Ananda batas Masjid waktu RasuluLlah hidup sebelum adanya perluasan masjid Nabawi. Katanya juga bahwa harga tiang payung yang ada di pelataran Masjid Nabawi yang bisa buka tutup, terbuka pada siang hari dan tutup pada malam hari, harga satu tiangnya kurang lebih 1 milyar rupiah. Juga tentang makam Baqi’ tempat para syuhada dan sahabat rasul di makamkan yang dekat dengan lokasi masjid Nabawi, dan masih banyak lagi informasi yang diperoleh dari Ananda Idrus.

Kami jalani hari-hari di Madinah dengan banyak beribadah kepada Allah SWT di masjid Nabawi dan berziarah ke tempat bersejarah, diantaranya masjid Quba di Madinah yang mana Rasullulah pernah bersabda “barangsiapa yang sholat di sana, maka baginya sama dengan pahala umroh."

Setelah melakukan sholat di Masjid Quba, maka perjalanan dilanjutkan ke Jabal Uhud, yaitu lokasi terjadinya peperangan Uhud yang menewaskan tidak kurang dari 70 syuhada muslim termasuk paman Rasullulah, sayidina Hamzah. Di lokasi ini terdapat gunung Uhud yang kelak akan diangkat Allah SWT ke syurga-Nya. Lalu perjalanan dilanjutkan ke masjid Jum'at dimana di Masjid tersebut pertama kalinya Rasullulah melaksanakan sholat Jum'at dan juga tempat terjadinya perpindahan arah kiblat ummat Islam dari arah Masjidil Aqsha di Jerussalem ke arah Ka'bah di kota suci Makkah.

Tiga hari lamanya kurang lebih kami berada di Madinah, setelah itu kami bersiap-siap untuk menuju Makkah Al Mukarramah untuk melaksanakan umroh yang sebelumnya harus melaksanakan rukun-rukun umroh yang diawali dengan mandi ihrom. Perjalanan dilanjutkan ke Masjid Bir Ali untuk mengambil miqot dan sholat sunnat ihrom. Dimana miqot Bir Ali adalah untuk para penduduk Madinah dan orang-orang yang datang ke Madinah yang bukan penduduk Madinah. Yang mana Allah SWT dan Rasulnya telah menetapkan miqot makani yaitu sesuai dengan ketentuan tempatnya seperti Al Juhfah miqot, bagi penduduk Syam, Maroko, Yalamlam miqot bagi penduduk Yaman dll. Setelah sholat ihrom, maka kita lafadzkan niat kita untuk berumroh. Setelah niat umroh, maka telah masuk dalam ibadah umroh dan tidak boleh melakukan larangan-larangan ihrom..

Selesai mengambil miqot dan berniat umroh maka langsung melakukan perjalanan via darat dari Madinah ke Makkah dengan memakan waktu kurang lebih 5-6 jam yang selama perjalanan disunnahkan untuk selalu melafadzkan talbiah, sholawat dan doa.

"Labbaik Allahumma labbaik, Labbaika la syarika laka labbaik. Innal hamda wanni' mata laka wal mulka, la syarikalak.."

Dalam perjalanan saya terhenyak, tidak dapat membayangkan dahulu bagaimana RasuluLlah dan para sahabat hijrah dari Makkah ke Madinah, melalui perjalanan yang panjang, tanah gersang, berbukit, malu rasanya betapa kecil sekali sumbangsih yang telah saya berikan untuk kejayaan Islam, Ya Rabb, Ampuni hamba, Ya RasuluLlah dan sahabat memang Kalian adalah umat terbaik yang wajib kami teladani.

Setelah sampai di hotel Ufuq Al Fateh di Makkah Al Mukarramah,  sekitar jam 12 malam, maka kami dan rombongan melaksanakan umroh di Masjidil Haram yang setelah masuk ke Masjidil Haram. Subhannallah Ka'bah dan Masjid yang begitu megah. "Ya Allah tambahkanlah kemuliaan, keagungan, kehormatan dan wibawa pada Baitullah ini. Dan tambahkan pula pada orang-orang yang memuliakan, menghormati dan mengagungkannya di antara mereka yang berhaji atau yang berumroh, dengan kemuliaan, kebesaran dan kebaikan."

Rasulullah SAW bersabda, "Allah telah menjanjikan Rumah ini (Baitullah) akan dikunjungi enam ratus ribu (orang) setiap tahun. Kalau kurang, maka Allah akan menyempurnakannya dengan para malaikat. Dia pun menjanjikan bahwa Ka’bah akan dibangkitkan pada hari Kiamat seperti pengantin hingga tempat perhentian. Setiap orang yang telah mengunjunginya akan bergantung pada tirainya. Mereka berjalan di sekelilingnya pada hari Kiamat hingga masuk ke surga. Maka mereka pun masuk ke surga bersamanya."

Maka langsunglah kami melakukan umroh dengan thawaf mengelilingi Ka'bah sebanyak 7 putaran dengan posisi Kab'ah di sebelah kiri kita. Berawal dari Hajar Aswad dengan mengucapkan Bismillahi Allahu akbar setiap melewati Rukun Yamani dan Hajar Aswad. Setelah selesai Thawaf diiringi dengan sholat sunnah di depan maqom Ibahim dengan membaca surat Al Kafirun di rakaat pertama dan Al Ikhlas di rakaat kedua. Setelah itu meminum zam-zam. Alhamdullilah dengan penuh perjuangan, terharu, pasrah dan lillahi Ta'ala...

Setelah Thawaf maka dilanjutkan dengan melakukan Sa'i dari Safa ke Marwah selama 7 kali putaran dengan mengakhiri putaran ke 7 di Marwah. Setelah itu Bertahallul yaitu mencukur rambut kepala atau memotong pendek. AlhamduliLlah, akhirnya selama kurang lebih 3 jam saya bersama teman-teman telah menyempurnakan Ibadah Umrah.

"Semoga Allah menerima Ibadah Umroh kami dan menjadikannya dalam timbangan amal kebajikan kami.” Amien.

Kebahagiaan yang sangat luar biasa  dapat  berthawaf di rumah Allah SWT bersama saudara-saudara kami kaum Muslimin dari seluruh dunia semuanya bersatu untuk beribadah kepada Allah SWT.

Masih ada waktu sekitar 7 hari di Makkah Al Mukarramah. Sisa-sisa hari di Masjidil Haram saya bersama-sama teman-teman mengoptimalkan untuk bermunajat, sholat, thawaf, mencium Hajar Aswad, sholat di Hijr Ismail, tilawah Qur’an, Umrah Badal, dan sebagainya. Pernah di suatu hari ketika saya ingin masuk Masjidil Haram, akan menaruh sandal lupa tidak membawa kantong plastik, tapi tiba-tiba ada seorang kakek yang memberikan kantong plastik merah kepada saya, terimakasih ya Rabb.

Ada lagi peristiwa saat saya baru beberapa langkah keluar hotel, tiba-tiba turun hujan yang sebelumnya rintik-rintik berubah menjadi agak besar walaupun tidak terlalu deras. Ada seorang wanita separuh baya sepertinya dari Bangladesh, minta saya untuk mendorong kursi ibunya, akhirnya sambil berhujan-hujanan saya mendorong kursi sang Ibu sampai pintu utama Masjidil Haram, yaitu pintu king Abdul Aziz. Saya berusaha mengambil hikmah dari kejadian tersebut, teringat sang Bunda di alam kubur sana, semoga Allah SWT mengasihinya, menyayanginya, mengampuni segala dosa-dosanya dan memasukan ke dalam surga-Nya. Amiin Ya Rabb...

Sungguh suasana ibadah dan penghambaan kepada Allah SWT yang saya rasakan lebih khusyu dan syahdu karena kami dapat beribadah langsung. Mata ini bisa sambil menatap Kabah rumah Allah SWT. Di malam terakhir setelah rapih-rapih untuk persiapan pulang besok, Jum’at 16 Juli 2010, saya berusaha untuk memaksimalkan Ibadah kepada Allah SWT, karena saya tidak ingin menyia-nyiakan sisa waktu yang ada. Saya isi malam terakhir dengan tilawah Al Quran dan sholat sunnat, AlhamduliLllah saya diberi kekuatan oleh Allah SWT walaupun di malam terakhir itu tidur hanya 1 jam. Yang belum pernah saya lakukan sebelumnya kecuali di malam terakhir di Masjidil Haram tersebut .

Setelah sholat shubuh dan sarapan, saya dan kawan-kawan kembali ke Masjidil Haram untuk beribadah thawaf, sholat sunnnah dhuha, tilawah Quran sambil menunggu persiapan sholat Jum’at. AlhamduliLlah setelah sholat Jum’at, kami melaksanakan thawaf wada, setelah melaksananakan thawaf wada, dari tangga King Abdul Aziz saya pandang lekat-lekat kabah BaituLlah sambil berdoa kepada Allah SWT, “Ya Rabb sudihlah Engkau untuk mengundang kami kembali dan seluruh guru dan karyawan Nurul Fikri untuk berkunjung ke rumah-MU, Ya Rabb terimalah ibadah kami, sambil melambaikan tangan ku ucapkan Bismillahi Allahu Akbar”

Catt:

AlhamduliLlah bagi rekan-rekan yang ingin melihat beberapa rekaman perjalanan Umrah kami (baru beberapa, insya Allah kalau ada kesempatan akan saya upload lagi yang lain), saya sudah upload di YOUTUBE dengan alamat sebagai berikut:

http://www.youtube.com/watch?v=F9GELJSJyhI (suasana ketika ingin ziarah ke makam rasul)

http://www.youtube.com/watch?v=llpQis-adE8 (suasana jamaah yang ingin masuk raudhah)

http://www.youtube.com/watch?v=8YDkPr1YPIU (memandang thawaf dari lantai atas)

http://www.youtube.com/watch?v=LU-cj3fjNDQ (Ba'da Ashar, memandang suasana thawaf dari lantai 2, sambil dzikir Ma'tsurat)

http://www.youtube.com/watch?v=iCTBE8nh9OA (Pak Muslim dari NF Boarding sedang menikmati air zam-zam)

http://www.youtube.com/watch?v=kSuRNYlG-hI (Pak Suhartono dan Pak Putut sekitar jam 3 pagi sedang menuju Masjidil Haram)

http://www.youtube.com/watch?v=t0d3jLCwe6U (Pertama kali menginjak tanah negeri para Nabi, ada Bu Sri Legini dari SD, Pak Bajuri dari SD dan Bu Susan dari TK)

atau dapat juga langsung dilihat di blog saya www.cahyadiheru.multiply.com

“Semoga Allah SWT dihari mendatang mengundang kita semua ke BaituLlah, Amiin Ya Rabb”

 

 

Kolom Lainnya